Halaman

Tampilkan postingan dengan label INTERNASIONAL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label INTERNASIONAL. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Januari 2009

“Konspirasi Abadi” Bungkam Sisi Kemanusiaan di Palestina


Oleh: Dedy Rahmat

SULIT menahan emosi rasanya ketika melihat bayi kecil malang diusung oleh ayahnya, yang dengan berusaha menjaga pikiranya yang pasti sangat kacau balau, mengucapkan takbir mengumandang Allahuakbar wa lilla ilham! Sebuah kalimat yang begitu menyayat hati. Ia pasti berusaha amat keras untuk iklas atas takdir Sang Illahi yang memutuskan buah hati kesayangannya harus mati terkapar dengan darah berceceran akibat serbuan bom pesawat-pesawat tempur Israel yang tak pandang bulu di jalur Gaza sejak 27 Desember 2008 hingga dipostingnya tulisan ini.

Demikin pula dengan seorang ayah yang menangis sedu sedan ketika ia kehilangan tiga anak balitanya yang nampak sedang lucu-lucunya, penuh keriangan, namun peluru-peluru tajam Israel memang sekali lagi, tak pandang bulu! Sementara pemandangan yang sekarat tidak kalah mengerikan! Seorang bocah cilik meringis kesakitan yang amat sangat ketika sang ayah yang nampak sangat terpukul, geram, dan terpaksa menerima, membawanya ke rumah sakit. Sang bocah perempuan cantik itu, kehilangan kaki kanan, akibat serangan bom Israel. Tak ayal, pemandangan memilukan terlihat jelas ketika ia dibopong dengan kaki hilang dengan sisa-sisa daging yang nampak tak lama lagi juga akan terpisah dari kakinya.

Kekejaman tentara Israel juga terekam dalam foto hasil bidikan seroang fotografer profesional yang mengambil gambar berulang kali ketika seorang bocah, mencoba merangkul ibunya yang ditembak di bagian kepala hingga meninggal dunia. Sang bocah yang menangis meraung-raung itu tampak berusaha menolong jiwa ibunya yang sebenarnya sudah tidak bernafas. Memang tentara Israel sangat kejam! Bocah cilik itu pun ditembak berulangkali hingga darahnya nampak berceceran di tembok, dan ia pun meregang nyawa dengan tangan yang nampak tetap berusaha mememeluk sang bunda.

Aksi sadis juga menimpa dua orang wartawan di jalur Gaza, di mana salah seorangnya adalah wartawan Reuters (Fadel Shana, 24 th). Shana yang jelas-jelas beridentitas Pers, dengan jaket yang bertuliskan ”Press” dan sebuah kamera di tanganya, ditembak hingga tertelungkup. Saat sekarat, nampak Shana berusaha mengacungkan tangannya sebagai tanda menyerah dan memberitahukan bahwa ia adalah jurnalis. Namun, tentara Israel justru menembaknya berkali-kali. Bahkan terlihat (tampaknya) Shana telah tewas, namun masih dihujani tembakan! Konvensi Jenewa, atau ketentuan PBB tentang tidak dibolehkannya warga sipil dan wartawan dibunuh atau dianiaya dalam sebuah pertempuran sudah tidak berlaku lagi bagi seluruh komponen politik dan militer Israel.

Pemandangan–pemandangan seperti ini, tentu saja hanya sebagian kecil contoh sadisme dari ribuan kasus serupa akibat serbuan ganas pasukan Israel yang sudah tidak punya hati nurani lagi. Mereka tampaknya sangat terbiasa berbuat kejam demi suksesnya melumat habis tanah-tanah Palestina yang makin lama semakin sempit sejak pendudukan Israel di wilayah Palestina pada tahun 1948.

Banyak analis Timur Tengah berpendapat, sesungguhnya aksi militer Israel memang sengaja dilakukan membabi buta dengan sasaran bayi dan generasi muda Palestina, dengan harapan ”matinya” sebuah generasi. Atau paling tidak memperlambat laju pertumbuhan penduduk, agar tidak pernah tercipta kuantitas penduduk besar-besaran yang suatu saat nanti akan menjadi kekuatan yang besar pula bagi perlawanan terhadap Israel. Ada juga analis yang mengatakan lebih ekstrim, bahwa tujuan Israel sesungguhnya adalah membunuh sebanyak-banyaknya rakyat Palestina, hingga mereka terusir dari tanahnya sendiri.

Lalu bagaimana dengan Amerika? Bagaimana dengan Presiden Barrack Obama yang (anehnya) banyak dielu-elukan oleh rakyat Indonesia, diperbincangkan dan didukung agar menang dalam pilpres AS yang lalu, dengan harapan membawa perubahan (terutama dalam kebijakan militernya di dunia). Jelas Bangsa Indonesia sendiri telah dua kali melakukan kesalahan. Pertama, mereka tertipu dan lupa bahwa rakyat kita sesungguhnya tidak perlu sibuk-sibuk memikirkan presiden mana yang akan menang di Amerika (apakah ada pengaruhnya bagi kita? Bagi saya, cenderung lebih banyak kerugiannya daripada keuntungan!). Kedua, karena sejarah telah mencatat, siapapun Presiden AS, kebijakannya tetap sama. Kebijakan militernya tetap keras dan (maaf) sama brutalnya dengan kebiadaban pasukan zionis.

Coba saja lihat contohnya bagaimana kejamnya militer AS ketika ia menghujani Osaka dan Nagasaki dengan bom nuklir yang mengakibatkan jatuhnya ribuan nyawa sipil. Hal yang sama juga terjadi di Irak ketika peawat-pesawat AS membom rumah sakit dan perumahan penduduk. Sementara untuk masalah sengketa Israel dengan sejumlah negara Arab, Washington dan Yerusalem terkenal dengan ”perselingkuhan abadi”, itu sebuah kenyataan yang terjadi.

AS tak jarang memainkan peran jadi juru damai yang berat sebelah. Mereka sering ”melambatkan diri” berperan sebagai juru damai dunia yang sekaligus mengalahkan peran PBB ketika Israel telah ”selesai” menuntaskan misinya. Artinya, ketika pasukan Hamas harus melakukan serangan balik atas aksi militer yang sudah terlanjur terjadi dan membuat kerugian besar di pihak Palestina, baru AS akan menegoisasi untuk ”gencatan senjata dan aksi damai” (strategi klasik yang terus terjadi).

Cara seperti itu juga sama halnya dengan yang dilakukan Obama, ketika ditanya wartawan bagaimana sikapnya soal krisis di Palestina, dengan enteng Obama menjawab, bahwa dirinya belum bisa memberikan komentar atas konflik yang terjadi antara Israel dan Palestina. Karena, ia baru bisa secara resmi berkomentar jika dirinya telah dilantik menjadi Presiden AS pada 20 Januari, seraya menegaskan dirinya ”sangat prihatin”. Pernyataan Obama ini muncul di awal Januari 2009 ketika sudah jatuh korban jiwa sebesar kurang lebih 600 orang dan 2000 orang yang mengalami luka berat. Pernyataan Obama, juga apa bedanya dengan memberikan jalan terlebih dahulu bagi Israel untuk menuntaskan misi pembunuhannya, baru ia berbicara?

Jelas sangat aneh pernyataan Obama itu. Apakah acara seremonial bisa mengalahkan sisi kemanusiaan? Bukankah pelantikan presiden itu hanya acara seremonial? Bukankah ia kini seorang presiden? Terlepas dari dia berstatus ”terpilih” atau ”terlantik”! Jika Obama betul seorang pembawa ”perubahan” sesungguhnya pertanyaan wartawan itu mudah saja dijawab. Jika benar ia prihatin, ia tinggal mengatakan ”Saya tidak setuju dengan konflik Israel-Palestina, maka saya kira perang itu harus dihentikan, bla...bla...bla...”. Setidaknya sekalipun misalnya itu bukan pernyataan resmi AS, tetapi muncul sebagai reaksi kemanusiaan Obama sebagai seorang Ayah yang juga memiliki anak yang umurnya sama dengan korban-korban nyawa yang berceceran darah di Palestina.

Segenggam harapan di Palestina sebenarnya hanyalah hati nurani. Selama kejujuran dan keiklasan menjadi dasar dalam langkah-langkah politik Amerika dan sekutunya, PBB, serta Israel itu sendiri, maka niscaya kedamaian akan tercipta di timur tengah. Hal ini akan sulit terwujud jika agenda konspirasi masih membungkam erat ide-ide kamanusiaan di sana. Wallaahu’ alam.

Minggu, 04 Januari 2009

Setetes Harap untuk Palestina yang Tertindas

wahai mujahid Palestina yang terbujur kaku, bersimbah darah…wahai bocah kecil malang bernasib kelam, tertembus peluru tajam…saat rudal-rudal Israel dan senjata apinya yang manyalak-nyalak…melempar amarah dendam kesumat pada kaum tertindas tersudut…yang kehilangan tanah genggaman yang coba kau rengkuh…demi harga dirimu, demi bangsa dan negaramu, dan demi Allah

wahai ratusan nyawa tak berdosa, wahai kerabat yang sekarat…wahai nyawa-nyawa bergelimpangan di sisi jalanan berdebu…dengan asap mesiu mengepul yang menyesakkan dada…wahai jiwa yang melayang saat coba mengais rezeki untuk keluarga tercinta, saat bocah malang bersenda gurau dengan sahabat, saat mereka asyik mengutak-atik mainan mobil pemadam kebakaran, dan boneka kecil itu

serdadu bengis, sadis, zionis itu takkan pernah mau tahu, apa dan siapa kamu…karena mereka terbiasa dengan hati hitam cadas warisan zaman jahiliyah…yang berakar, menggurita, mengkristal, untuk membunuh dan merebut tanah padang pasir gersang milik warga bersorban yang terpaksa akrab dengan desingan peluru, derap langkah angkuh pasukan hijau dan kesombongan tank-tank Yahudi…saat mereka menggilas hak-hak kaum kaya pemilik tanah leluhur yang jadi miskin itu

wahai rakyat Palestina yang terbiasa akrab dengan janji-janji perdamaian Negara Adikuasa, yang coba bermain mata saat mereka jadi juru damai sengketa…dan menyaksikan betapa perselingkuhan abadi Washington dan Jerusalem begitu menggelora saat serangan membabibuta mencampapakkan nyawa…tak pandang bulu, dan coba membungkam, melenakan harga diri tertindas, agar terdiam ketika mereka nyata harus berperang, membela diri atas rentetan serangan tak kunjung henti yang berdarah-darah itu

wahai Mujahid yang terkapar, wahai bocah-bocah malang yang terbakar, kaum ibu yang meregang nyawa, orangtua yang terhenti detak jantungnya dan sanak saudara yang kehilangan tulang punggung dan sandaran cinta…saat takdir memutuskan kau mati syahid di kota panas menggelora, saat kau kehilangan orang-orang tersayang…aku di sini terbang melayang membawa doa dan harapan…semoga Sang Perkasa meridhoimu menuju surga nan kekal, semoga kaum tertindas itu dilimpahkan kekuatan lahir batin untuk mencapai kemenangan abadi

ya Mujahid yang masih berdetak jantungnya…banggunlah kau dari tidurmu, singsingkan lengan bajumu, ulurkan bantuanmu, dengan tenagamu, dengan hartamu, dengan hatimu…aku di sini, tak bergeming melangkahkan kaki…karena aku hanya penggores pena yang tak tahu malu, aku hanya bisa berdoa semoga Allah ridho oretan ini jadi bagian kecil doa atas triliunan doa yang insya Allah tak kunjung henti mengalir…membasahi gurun tandus yang gersang…semoga Allah ridho ini jadi satu tetes air hujan dari sejarah hujan yang tak terhitung sejak bumi dan langit tercipta

ya mujahid yang bernyawa, yang berbekal iklas dan pengharapan lindungan Illahi…semoga kau tersiram amal ibadah yang mengalir seumur hidupmu, sehidup matinya seluruh keturunanmu, atas keridhoanmu menembus badai gurun demi membela kaum yang tersudut

wahai para penggores pena, bakarlah semangat jihad lahir batin kaum mujahid…yang berani itu…jadikan goresan penamu agar jadi sungai doa yang tak kunjung henti, hingga kemenangan abadi menjadi milik yang hakiki…insya Allah…

Oleh: Dedy Rahmat
Goresan Digital
untuk Rakyat Palestina
dan para syuhada
di Bulan Desember 2008
dan Januari kelabu 2009

Senin, 04 Agustus 2008

Dunia Cyber akan Munculkan “Jutaan” Kasus Kriminal

Oleh: Dedy Rahmat

KEMAJUAN teknologi informasi saat ini telah membuka sebuah era baru pada digitalisasi sistem kerja. Cara-cara kerja manual kini sudah mulai ditinggalkan. Komputerisasi, internet, dan alat komunikasi celullar (handphone) yang bahkan dilengkapi kamera dan GPRS (alat pendeteksi koordinat melalui satelit) menjadi trend baru yang merubah pola kerja dan bahkan gaya hidup manusia. Demikian pula dalam dunia kriminal, seiring dengan kemajuan teknologi informasi, kini telah terjadi sebuah “trend baru”, yaitu cyber crime/kejahatan dunia maya.

Cyber crime menjadi momok yang menakutkan seiring dengan tumbuh berkembangnya teknologi internet, sebuah jaringan informasi global tanpa batas wilayah negara. Di mana akses komunikasi dan informasi melalui teknologi ini hanya memerlukan waktu sekian per detik, meskipun jarak di antara komunikator (misalnya) dipisahkan 2 benua. Contoh cyber crime yang kini marak di antaranya adalah; penjebolan kartu kredit; penipuan berkedok usaha di dunia internet, dll. Kini, pornografi melalui jaringan internet, juga menjadi sebuah masalah baru. Banyak tokoh berpendapat bahwa pornografi juga merupakan salah satu kejahatan dunia cyber, bahkan dianggap lebih berbahaya dari sekedar penjebolan kartu kredit. Karena, kejahatan ini tidak berbicara sesaat, tetapi akan merusak setiap angkatan generasi secara sistematis.

Bisa dikatakan, cyber crime juga merupakan sisi negatif dari gerakan globalisasi teknologi yang dicanangkan pihak barat. Meskipun tidak dapat kita pungkiri bahwa globalisasi melalui penyebaran teknologi internet juga banyak membawa perubahan positif. Derasnya perkembangan di bidang teknologi informasi saat ini merupakan jawaban atas makin komplesknya kebutuhan manusia akan informasi. Jaringan komunikasi dan informasi dunia atau dikenal juga dengan teknologi cyberspace, berisikan kumpulan informasi yang dapat diakses oleh semua orang dalam bentuk jaringan-jaringan komputer yang disebut jaringan internet. Internet adalah media penyedia informasi dan kegiatan komunitas komersial terbesar dan tumbuh berkembang dengan sangat pesat.

Cyberspace bahkan telah “menelanjangi dunia”. Melalui teknologi (misalnya) google earth, semakin menunjukkan bahwa kini batas-batas wilayah negara “sudah tidak dikenal lagi”. Teknologi ini bahkan bisa menjadi alat spionase antarnegara. Seperti halnya yang dilakukan Hans Kristensen, yang kebetulan juga menjabat sebagai direktur dari Federation of American Scientists Nuclear Information Project yang menemukan kapal selam berteknologi nuklir milik China yang tengah melakukan latihan rahasia di lautan Pacifik melalui satelit Digital Globe Quickbird (sumber: www.pelitanews.com - softpedia.com - dailymail - diakses Sabtu, 7 Juni 2008)

Teknologi google earth memang luar biasa, berjuta wilayah di dunia bisa dilihat melalui teknologi pengambilan foto udara via satelit ini. Bahkan Indonesia pun tak luput dari tampilan-tampilannya. Namun di sisi lain teknologi ini bisa mengancam keamanan Nasional, teknologi ini memungkinkan suatu negara untuk “menghancurkan” negara lain dengan meninjau berbagai potensi sebelum “menyerang”.

Berdasarkan gambaran di atas, khususnya bagi Indonesia, maka ada suatu masalah penting yang harus dipecahkan terkait semakin mutakhirnya teknologi informasi melalui internet itu (dan semakin besarnya pula ancaman yang mungkin terjadi). Yaitu, sudah siapkah perangkat hukum kita untuk mengantisipasi dan menangani kemungkinan-kemungkinan munculnya sisi negatif dari teknologi dunia maya?

Inilah masalah yang masih dihadapi Indonesia, hingga saat ini kita belum memiliki undang-undang khusus yang berbicara mengenai cyber crime. Padahal, kekhawatiran akan tindak kejahatan ini bisa dirasakan dalam seluruh aspek bidang kehidupan. Bahkan ITAC (Information Technology Assosiation of Canada) pada “International Information Industry Congress (IIIC) 2000 Millenium Congress” di Quebec tanggal 19 September 2000 menyatakan bahwa “cyber crime is a real and growing threat to economic and social development around the world. Information technology touches every aspect of human life and so can electronically enable crime”.

Di Indonesia belum ada pasal-pasal yang jelas dalam peraturan perundang-undangan untuk menjerat sang pelaku cyber crime. Lalu pembuktiannya pun sulit. Sedangkan di tingkat masyarakat, sosialisasi mengenai cyber crime belum menyeluruh. Dan kita telah “kalah” dari negara tetangga. Negara seperti Malaysia dan Singapura telah mempunyai undang-undang mengenai dunia cyber.

Demikian pula dengan India yang sudah memiliki polisi khusus cyber. Sementara di DPR sendiri hingga saat ini baru membahas rancangan undang-undang. Dan banyak kalangan menilai rancangan itu pun belum sesuai dengan kondisi sosial yang tengah terjadi. Referensi dari beberapa negara dipandang belum cukup menjamin penerapan di lapangan. Sementara kita masih belum memiliki undang-undang anti-cyber crime, ironisnya kita justru pernah dinobatkan sebagai negara hacker ketiga di dunia. Berdasarkan data informal disinyalir bahwa kota hacker pertama diduduki oleh Semarang, kemudian kota Yogyakarta.

Di Indonesia, penggunaan internet untuk segala macam aktivitas terus meningkat tajam. Menurut Ketua Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Sylvia Sumarlin, saat ini pengguna internet di Indonesia pada akhir tahun 2007, tercatat mencapai 25 juta orang. Dibanding tahun 2006, pertumbuhan pengguna internet di Indonesia naik 25 persen, dari sebelumnya 20 juta di akhir 2006. Sementara menurut GM Sales & Customer Service Telkomsel Mirza Budiwan, pengguna internet di Indonesia diperkirakan mencapai 57,8 juta pada 2010 (sumber: detik.net 25/01/2008. Diakses Senin 25/02/2008). Di antara jumlah pengguna internet ini, sangat memungkinkan memunculkan hacker-hacker selanjutnya, yang berpotensi menghancurkan negara melalui kehatan dunia maya.

Bisa kita bayangkan, katakanlah jika pada tahun 2007 pengguna internet sebanyak 25 juta orang, dan seribu di antaranya adalah hacker, lalu seribu lainnya adalah calon hacker, maka pada tahun 2008 akan muncul 2000 hacker, yang secara terus menerus jumlahnya akan bertambah dari tahun-ke tahun. Sementara perangkat hukum kita belum siap menangani masalah ini. Baik sumber daya penegak hukum maupun aturan hukum itu sendiri.

Penulis berpendapat, kejahatan dunia maya itu bukan ancaman utama pada saat sekarang (pendapat ini tanpa menganggap sepele sisi negatif dunia cyber saat ini), tapi akan menjadi ancaman yang sangat serius di masa yang akan datang. Terlebih, jika kita terlalu lama membicarakan cyber crime dalam tahap wacana. Seharusnya, saat ini sudah saatnya implementasi dari undang-undang tersebut, yang tentunya harus ditunjang dari kesiapan SDM dan perangkat-perangkat lainnya. Dengan kata lain, cyber crime “akan menuai panen besar-besaran” di masa yang akan datang jika kita terlambat mengantisipasinya melalui kesiapan perangkat hukum.

Sabtu, 12 April 2008

“Wilders dan Fitna Hanya Bibit Kecil!”

Oleh: Dedy Rahmat

APA SEBENARNYA yang diinginkan seorang Geert Wilders dengan membuat sebuah film yang mengisahkan bawa Islam dan Al-Quran sebagai musuh dunia? Apakah sekedar mencari sensasi dan menyebar propaganda? Apakah karena ketakutan yang luar biasa karena tajamnya peningkatan jumlah muslim di Eropa, AS, dan Belanda itu sendiri? Atau karena aksi “terorisme” umat Islam yang marak di seluruh belahan Dunia?

Tampaknya jawaban dari pertanyaan di atas adalah; ya! Wilders yang anggota parlemen dari Partai Kebebasan PVV Belanda itu memang sengaja memprovokasi Dunia melalui tayangan film yang mengisahkan betapa umat Islam itu adalah sebuah potensi teroris yang membahayakan kehidupan Dunia.

Film Fitna yang disebarkan Wilders kepada masyarakat Dunia melalui internet itu mencoba membuat immage bahwa umat Islam itu sarat dengan kekerasan dan anti-kebebasan/liberalisme. Sementara Al-Quran disitir dengan bahasa sendiri dengan kerap mengartikan ayat-ayat Al-Quran memberi perintah untuk melakukan terorisme. Padahal, sudah barang tentu semua itu tidak benar! (silahkan anda buktikan sendiri dengan membaca ayat-ayat Al-Quran, terutama yang diungkapkan dalam film Fitna).

Melalui sitiran ayat Al-Quran yang dikombinasikan dengan film dokumenter tentang aksi pengeboman, pembunuhan, dll., yang dilakukan umat Islam, Wilders memang ingin “mengingatkan” masyarakat Dunia bahwa Islam memang berbahaya. Islam juga digambarkan anti-kebebasan dengan mencontohkan bahwa homoseksual sebagai suatu kesalahan, sementara notabene Belanda dan beberapa negara Eropa dan Amerika memang menghalalkan perilaku menyimpang ini, bahkan ditegaskan melalui kebijakan negara masing-masing.

Wilders juga memang tidak ingin umat Islam mendominasi dunia. Dalam film Fitna ia menjelaskan sebuah grafik perkembangan umat Islam di Belanda dan Eropa yang sangat dahsyat, terutama pasca-ledakan menara kembar WTC di New York Amerika pada 11 September 2001. Dengan sangat tegas dia juga menegaskan “Stop Islamisasi!”.

Jika mencermati film Fitna jelas merupakan sebuah konsep sepihak. Artinya, film itu tidak pernah mengisahkan betapa aksi “terorisme umat Islam” itu sesungguhnya terjadi sebagai feed back dari perilaku kekerasan yang dilakukan Amerika, Israel, dan sekutu-sekutunya di Eropa terhadap umat Islam. Film ini sudah barang tentu tidak menayangkan bagaimana kekejaman tentara sekutu di Iraq terhadap ribuan orang tak berdosa. Mereka tidak menayangkan bagaimana anak-anak kecil, orang-orang tua, ibu-ibu hamil, dll., tewas dengan menggenaskan ketika bom-bom dijatuhkan melalui udara dan berbagai serbuan mengerikan di camp penduduk di Iraq, Palestina, Afganistan, dan banyak negara muslim lainnya.

Konspirasi Internasional

Lalu mengapa Wilders begitu berani membuat dan menayangkan film Fitna? Rasa-rasanya tidak mungkin ia memproses film ini begitu saja. Tanpa bermaksud memfitnah tanpa bukti, namun indikasi bahwa Wilders “bermain” dalam sebuah jaringan konspirasi bisa saja terjadi. Ia jelas membutuhkan dukungan AS, Israel, dan sekutu lainnya untuk membuat dan menayangkan film Fitna.

Artinya, bukan tidak mungkin pula ia juga bekerjasama dengan jaringan intelejen Internasional guna menyukseskan sasaran-sasaran penyebaran film kontroversi tersebut. Dengan kata lain, tindakan Wilders bisa saja merupakan aksi konspirasi dan propaganda tingkat dunia. Dengan demikian, ia tidak bermain sendiri.

Stop Islamisasi dan Merebut Ladang Minyak

Apakah sasaran dari film Fitna itu adalah sekedar menghentikan islamisasi? Tampaknya bukan sekedar itu. Ia jelas ingin memancing kemarahan umat Islam di dunia. Artinya, pesan yang ia sampaikan bukan sekedar peringatan akan bahaya umat Islam kepada bangsa-bangsa non-muslim. Sasaran dari film Fitna itu sebenarnya umat Islam itu sendiri. Artinya, film itu sengaja dipertontonkan untuk umat muslim, dengan harapan terbentuk reaksi yang berlebihan, sehingga memberikan alasan kepada AS dan sekutu-sekutunya untuk kembali melancarkan serangan membabibuta kepada negara-negara muslim seperti halnya Iraq dan Afganistan pasca-tragedi WTC-NY.

Jika hipotesis di atas benar, siapa sesungguhnya yang tengah dibidik? Bisa saja “konspirasi Fitna” itu adalah negara Iran. Seperti kita ketahui bersama AS di bawah kepemimpinan Bush begitu bernafsu untuk menyerang Iran dengan alasan kepemilikan uranium untuk pengembangan teknologi nuklir. Sementara Iran sendiri, dikenal sebagai negara yang keras menentang kebijakan-kebijakan luar negeri AS, dan merupakan salah satu simbol umat Islam di Dunia.

Iran bukan saja dianggap sebagai “salah satu biang teroris”, tetapi juga menyimpan potensi ekonomi yang sangat luar biasa di bidang perminyakan. Iran adalah negara pengekspor minyak ke-4 terbesar di Dunia. Iran merupakan salah satu “jantung” perekonoimian Dunia, seperti halnya Iraq. Artinya, jika Iran dapat dilumpuhkan, maka akan memberikan manfaat ganda bagi AS dan sekutunya. Selain menghentikan islamisasi juga mengais rezeki melalui ladang-ladang minyak hasil ekspansi melalui serangan-serangan militer.

“Program Jangka Panjang”

“Konspirasi dan propaganda ala Wilders” itu, bisa juga merupakan sebuah program jangka panjang. Ia telah mempersiapakan sebuah “bom waktu” dengan harapan akan muncul berbagai propaganda serupa yang lebih dahsyat melalui bermacam media. Sehingga, akan terjadi perang opini antar-umat seperti teori Snow Ball; menggelinding, semakin membesar, dan akhirnya hancur berkeping-keping.

Paling tidak, jika Fitna belum mampu mencapai sasaran, ia telah menganalisa bahwa di masa mendatang, ancaman yang lebih serius itu bukan muncul dari Fitna, melainkan dari kontroversi lainnya yang lebih besar. Wilders mungkin sedang “menabur bibit, dengan harapan memperoleh panen besar-besaran di masa mendatang”.

Jika kita merujuk pada teori Snow Ball tadi, Wilders dan Fitna pun sesungguhnya hanya bagian kecil dari butir-butir es yang menggelinding dan semakin membesar. Apalagi dengan tampilan kartun Nabi Muhammad dalam film Fitna yang berkepala bom yang merupakan gambar yang diambil dari sebuah media massa di Denmark beberapa waktu lalu (yang juga memancing kemarahan umat Islam). Artinya, tampilan kartun Nabi Muhammad, Film Fitna, dll., itu memang sebuah konspirasi “penyebaran bibit” yang perlahan namun pasti dan secara sistematis akan memancing reaksi dan aksi.

Jika anda tertarik mengkritisi tulisan ini, silahkan sampaikan via e-mail dedy_rahmat74@yahoo.co.id, atau langsung melalui blog. Tulisan anda akan ditayangkan pada blog ini

“Wilders dan Fitna Hanya Bibit Kecil!”

Oleh: Dedy Rahmat

APA SEBENARNYA yang diinginkan seorang Geert Wilders dengan membuat sebuah film yang mengisahkan bawa Islam dan Al-Quran sebagai musuh dunia? Apakah sekedar mencari sensasi dan menyebar propaganda? Apakah karena ketakutan yang luar biasa karena tajamnya peningkatan jumlah muslim di Eropa, AS, dan Belanda itu sendiri? Atau karena aksi “terorisme” umat Islam yang marak di seluruh belahan Dunia?

Tampaknya jawaban dari pertanyaan di atas adalah; ya! Wilders yang anggota parlemen dari Partai Kebebasan PVV Belanda itu memang sengaja memprovokasi Dunia melalui tayangan film yang mengisahkan betapa umat Islam itu adalah sebuah potensi teroris yang membahayakan kehidupan Dunia.

Film Fitna yang disebarkan Wilders kepada masyarakat Dunia melalui internet itu mencoba membuat immage bahwa umat Islam itu sarat dengan kekerasan dan anti-kebebasan/liberalisme. Sementara Al-Quran disitir dengan bahasa sendiri dengan kerap mengartikan ayat-ayat Al-Quran memberi perintah untuk melakukan terorisme. Padahal, sudah barang tentu semua itu tidak benar! (silahkan anda buktikan sendiri dengan membaca ayat-ayat Al-Quran, terutama yang diungkapkan dalam film Fitna).

Melalui sitiran ayat Al-Quran yang dikombinasikan dengan film dokumenter tentang aksi pengeboman, pembunuhan, dll., yang dilakukan umat Islam, Wilders memang ingin “mengingatkan” masyarakat Dunia bahwa Islam memang berbahaya. Islam juga digambarkan anti-kebebasan dengan mencontohkan bahwa homoseksual sebagai suatu kesalahan, sementara notabene Belanda dan beberapa negara Eropa dan Amerika memang menghalalkan perilaku menyimpang ini, bahkan ditegaskan melalui kebijakan negara masing-masing.

Wilders juga memang tidak ingin umat Islam mendominasi dunia. Dalam film Fitna ia menjelaskan sebuah grafik perkembangan umat Islam di Belanda dan Eropa yang sangat dahsyat, terutama pasca-ledakan menara kembar WTC di New York Amerika pada 11 September 2001. Dengan sangat tegas dia juga menegaskan “Stop Islamisasi!”.

Jika mencermati film Fitna jelas merupakan sebuah konsep sepihak. Artinya, film itu tidak pernah mengisahkan betapa aksi “terorisme umat Islam” itu sesungguhnya terjadi sebagai feed back dari perilaku kekerasan yang dilakukan Amerika, Israel, dan sekutu-sekutunya di Eropa terhadap umat Islam. Film ini sudah barang tentu tidak menayangkan bagaimana kekejaman tentara sekutu di Iraq terhadap ribuan orang tak berdosa. Mereka tidak menayangkan bagaimana anak-anak kecil, orang-orang tua, ibu-ibu hamil, dll., tewas dengan menggenaskan ketika bom-bom dijatuhkan melalui udara dan berbagai serbuan mengerikan di camp penduduk di Iraq, Palestina, Afganistan, dan banyak negara muslim lainnya.

Konspirasi Internasional
Lalu mengapa Wilders begitu berani membuat dan menayangkan film Fitna? Rasa-rasanya tidak mungkin ia memproses film ini begitu saja. Tanpa bermaksud memfitnah tanpa bukti, namun indikasi bahwa Wilders “bermain” dalam sebuah jaringan konspirasi bisa saja terjadi. Ia jelas membutuhkan dukungan AS, Israel, dan sekutu lainnya untuk membuat dan menayangkan film Fitna. Artinya, bukan tidak mungkin pula ia juga bekerjasama dengan jaringan intelejen Internasional guna menyukseskan sasaran-sasaran penyebaran film kontroversi tersebut. Dengan kata lain, tindakan Wilders bisa saja merupakan aksi konspirasi dan propaganda tingkat dunia. Dengan demikian, ia tidak bermain sendiri.

Stop Islamisasi dan Merebut Ladang Minyak
Apakah sasaran dari film Fitna itu adalah sekedar menghentikan islamisasi? Tampaknya bukan sekedar itu. Ia jelas ingin memancing kemarahan umat Islam di dunia. Artinya, pesan yang ia sampaikan bukan sekedar peringatan akan bahaya umat Islam kepada bangsa-bangsa non-muslim. Sasaran dari film Fitna itu sebenarnya umat Islam itu sendiri. Artinya, film itu sengaja dipertontonkan untuk umat muslim, dengan harapan terbentuk reaksi yang berlebihan, sehingga memberikan alasan kepada AS dan sekutu-sekutunya untuk kembali melancarkan serangan membabibuta kepada negara-negara muslim seperti halnya Iraq dan Afganistan pasca-tragedi WTC-NY.

Jika hipotesis di atas benar, siapa sesungguhnya yang tengah dibidik? Bisa saja “konspirasi Fitna” itu adalah negara Iran. Seperti kita ketahui bersama AS di bawah kepemimpinan Bush begitu bernafsu untuk menyerang Iran dengan alasan kepemilikan uranium untuk pengembangan teknologi nuklir. Sementara Iran sendiri, dikenal sebagai negara yang keras menentang kebijakan-kebijakan luar negeri AS, dan merupakan salah satu simbol umat Islam di Dunia.

Iran bukan saja dianggap sebagai “salah satu biang teroris”, tetapi juga menyimpan potensi ekonomi yang sangat luar biasa di bidang perminyakan. Iran adalah negara pengekspor minyak ke-4 terbesar di Dunia. Iran merupakan salah satu “jantung” perekonoimian Dunia, seperti halnya Iraq. Artinya, jika Iran dapat dilumpuhkan, maka akan memberikan manfaat ganda bagi AS dan sekutunya. Selain menghentikan islamisasi juga mengais rezeki melalui ladang-ladang minyak hasil ekspansi melalui serangan-serangan militer.

“Program Jangka Panjang”
“Konspirasi dan propaganda ala Wilders” itu, bisa juga merupakan sebuah program jangka panjang. Ia telah mempersiapakan sebuah “bom waktu” dengan harapan akan muncul berbagai propaganda serupa yang lebih dahsyat melalui bermacam media. Sehingga, akan terjadi perang opini antar-umat seperti teori Snow Ball; menggelinding, semakin membesar, dan akhirnya hancur berkeping-keping.

Paling tidak, jika Fitna belum mampu mencapai sasaran, ia telah menganalisa bahwa di masa mendatang, ancaman yang lebih serius itu bukan muncul dari Fitna, melainkan dari kontroversi lainnya yang lebih besar. Wilders mungkin sedang “menabur bibit, dengan harapan memperoleh panen besar-besaran di masa mendatang”.

Jika kita merujuk pada teori Snow Ball tadi, Wilders dan Fitna pun sesungguhnya hanya bagian kecil dari butir-butir es yang menggelinding dan semakin membesar. Apalagi dengan tampilan kartun Nabi Muhammad dalam film Fitna yang berkepala bom yang merupakan gambar yang diambil dari sebuah media massa di Denmark beberapa waktu lalu (yang juga memancing kemarahan umat Islam). Artinya, tampilan kartun Nabi Muhammad, Film Fitna, dll., itu memang sebuah konspirasi “penyebaran bibit” yang perlahan namun pasti dan secara sistematis akan memancing reaksi dan aksi.

Jika anda tertarik mengkritisi tulisan ini, silahkan sampaikan via e-mail dedy_rahmat74@yahoo.co.id, atau langsung melalui blog. Tulisan anda akan ditayangkan pada blog ini

Peta Visitor